Badoet (2015)

Ide cerita nya boleh lah 8/10
Horor nya 2/10 deh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Cast nya 2,5/10 πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ
Gore scene ? Are you kidding me?😝😝😝

Jadi nonton nih film gara-gara tertarik banget ama poster nya. Horor nya semacam meyakinkan. Ditambah di dalem studio tadi cuma 15 orang yang nonton. Kebayang dong seremnya gimana, eh ternyata dan ternyata: yagitudeh 😀😀😀

Skip wae lah! – at Empire XXI

View on Path

Unfriended (2015)

Unfriended (2015)

Apa yang akan kalian lakukan jika ada “orang asing” tiba-tiba muncul dalam online group chat kalian dan memberikan sebuah pesan tak terduga?

Let’s play a game “Never Have I Ever?”

Film besutan sutradara Leo Gabriadze ini membawa kita pada fenomena anak muda jaman sekarang yang hobinya chatting online, baik antar individu ataupun dalam grup pertemanan. Ada 6 anak muda yang bernama Blaire, Mitch, Adam, Jess, Ken, dan Val yang suka melakukan grup chat online via Skype. Salah satu social media platform yang memungkinkan user untuk melakukan chat, telepon,dan video call secara gratis ke semua belahan dunia yang terhubung dengan Internet.

Film yang dari awal menjadikan laman Skype dan dekstop Mac sebagai kamera mata penonton ini diawali dengan “couple video call” antara Blaire dan Mitch yang membahas seputar obrolan pasangan kekasih tipikal US style seperti: “could you show me yours? I’m horny, babe. Just a little bit please”. Lalu suasana pacaran itu mendadak akward ketika panggilan masuk dari teman-teman se gank yang sudah di reject tapi tetap saja masuk. Jadilah mereka berdua kegep kalau sedang pacaran via Skype.

Tak lama kemudian, Blaire melihat ada satu kejanggalan di group video Skype mereka. Ada satu profile tanpa foto ikut bergabung dalam obrolan video mereka. Awalnya mereka berfikir akun anonymous itu adalah sebuah “glitch” atau malfunction dari Skype ataupun hacker yang berhasil masuk di obrolan Skype mereka. Tapi ternyata akun tersebut bisa menuliskan pesan yang sangat mengejutkan, saudara-saudara. Setelah diteliti, akun tersebut adalah milik salah satu teman mereka yang sudah mati bernama Laura Barns. Sontak semuanya kaget dong masa’ iya orang yang udah mati masih bisa Skype-an. Tragisnya lagi kematian Laura Barns berhubungan dengan ke enam pemuda tersebut. Laura Barns adalah korban cyberbullying yang melakukan aksi bunuh diri dengan menembakkan pistol pada kepalanya.

Kemudian teror Laura Barns menghantui obrolan video call tersebut. Satu persatu mendapatkan fakta yang mengejutkan dan mencengangkan. A good person is not good as thought.

Dalam sebuah pertemanan, pasti ada rahasia maupun kebohongan yang disimpan masing-masing individu. Meskipun telah ditutup rapat-rapat, semuanya akan terbongkar ketika berhadapan dengan ancaman kematian. Inilah yang terjadi pada pertemanan ke enam tokoh utama film yang tidak lolos sensor di Indonesia ini.

Jadi apa hubungannya kematian Laura Barns dengan ke enam anak muda Skype ini?

Bully macam apa yang telah diterima Laura Barns dari teman-temannya?

Bagaimana nasib Blaire, Mitch, Adam, Jess, Ken, dan Val ini?

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

Satu jam dua puluh menit tidak akan terasa dua jam ketika nonton film ini. Alur cerita yang simple, tidak bertele-tele, dan akting yang natural dari ke enam tokoh utama muncul secara personal. Kenapa bisa personal? Karena mereka muncul dalam bingkaian kamera laptop dengan medium Skype. Film yang ceritanya ditulis oleh Nelson Greaves ini mengajak penonton seolah-olah terlibat dalam obrolan video call Skype yang bikin penasaran sampai akhir film. Singkatnya kita sedang online Skype bareng-bareng dan melihat thriller horror di depan mata sendiri.

Meskipun film ini pake jasa Food Fetish (according to Credit Tittle) sebagai vendor catering selama proses produksi, aura horor tidak terlalu menyeramkan (terus hubungannya apa?)

Film ini mengajarkan kita bahwasannya cyberbullying is a crime. Jangan jadi orang yang menyepelekan lelucon pada seseorang di manapun: offline or online. Kita nggak tau lelucon itu akan sangat menyakitkan bagi seseorang tersebut atau tidak. Seperti Laura Barns yang mengakhiri hidupnya karena bully di Internet.

SAY NO TO BULLYING!
 

Friday oh My Friday

Jum’at ini mungkin Jum’at yang begitu kelam. Setidaknya itu yang dirasakan oleh laki-laki 25 tahun berkulit sawo matang dengan perut dan pipi yang mulai membuncit. Sebait doa yang pernah ia panjatkan 5 bulan lalu akhirnya terkabul. Kini ia sudah bebas dari ketidaknyamanan penjara yang memasung kreatifitasnya. Tidak pernah merasakan teman, tidak pernah menemukan kebahagian, dan tidak pernah merasakan hidup. 

Tapi dia yakin satu hal: Tuhan tidak akan menyia-nyiakan makhluk-Nya. Sejatinya Tuhan telah menyiapkan satu hal yang sangat indah. Tetap yakin. Esok kan bahagia.

Bandung, 9 Oktober 2015