‘Yang Terlupakan’: Bentuk Penyelasan Iwan Fals dan Ariel NOAH

‘Yang Terlupakan’: Bentuk Penyelasan Iwan Fals dan Ariel NOAH

Music video (MV) remake song dari lagunya Om Iwan Fals berjudul YANG TERLUPAKAN telah diunggah di YouTube sejak Desember 2015 lalu. Lagu ini dibawakan kembali secara duet dengan grup fenomenal NOAH. Paduan musik klasik Bang Iwan dan suara serak Ariel membuat single ini cukup merasuk.

Penyesalan. Kata inilah yang tersirat dari video klip buatan sutradara M. Sakti tersebut. Dua sosok penyanyi ini seolah menggambarkan bentuk penyesalan terkait pengalaman hidupnya di masa lampau.

Mari memulai dengan kehidupan Iwan Fals. Penyanyi berusia 54 tahun ini ditinggal oleh sang anak bernama Galang Rambu Anarki akibat overdosis pada tahun 1997 silam. Pada MV tersebut jelas menyiratkan hal ‘yang terlupakan’ dalam hidupnya. Bayang-bayang putra sulungnya selalu hadir. Adakah penyesalan dalam diri seorang Iwan Fals karena kematian sang anak itu? Mungkinkan ia menyesal karena merasa lalai menjaganya dari jeratan obat-obatan terlarang?

Beralih ke Ariel. Video berdurasi 4 menit 12 detik ini mengungkapkan sesuatu yang mengingatkan publik dan fans NOAH pada kejadian menimpa vokalisnya. Kejadian video mesum antara Ariel dan sejumlah wanita tersirat jelas dalam MV tersebut. Ariel berada di atas ranjang dan dikelilingi banyak orang membawa kamera. Jelas, ayah satu anak ini ingin menunjukkan penyesalaannya atas kasus tersebut.

Liriknya pun seolahΒ mewakili penyesalan kisah silam dua penyanyi berkarakter itu.

“ooo…maafkanlah
ooo…maafkanlah
rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi”

Coba lihat sendiri video klip lagu yang diambil dari album baru Iwan Fals bertajuk SATU PROJECT di bawah ini. Apakah kalian juga merasakannya?

Badoet (2015)

Ide cerita nya boleh lah 8/10
Horor nya 2/10 deh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Cast nya 2,5/10 πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ
Gore scene ? Are you kidding me?😝😝😝

Jadi nonton nih film gara-gara tertarik banget ama poster nya. Horor nya semacam meyakinkan. Ditambah di dalem studio tadi cuma 15 orang yang nonton. Kebayang dong seremnya gimana, eh ternyata dan ternyata: yagitudeh 😀😀😀

Skip wae lah! – at Empire XXI

View on Path

Unfriended (2015)

Unfriended (2015)

Apa yang akan kalian lakukan jika ada “orang asing” tiba-tiba muncul dalam online group chat kalian dan memberikan sebuah pesan tak terduga?

Let’s play a game “Never Have I Ever?”

Film besutan sutradara Leo Gabriadze ini membawa kita pada fenomena anak muda jaman sekarang yang hobinya chatting online, baik antar individu ataupun dalam grup pertemanan. Ada 6 anak muda yang bernama Blaire, Mitch, Adam, Jess, Ken, dan Val yang suka melakukan grup chat online via Skype. Salah satu social media platform yang memungkinkan user untuk melakukan chat, telepon,dan video call secara gratis ke semua belahan dunia yang terhubung dengan Internet.

Film yang dari awal menjadikan laman Skype dan dekstop Mac sebagai kamera mata penonton ini diawali dengan “couple video call” antara Blaire dan Mitch yang membahas seputar obrolan pasangan kekasih tipikal US style seperti: “could you show me yours? I’m horny, babe. Just a little bit please”. Lalu suasana pacaran itu mendadak akward ketika panggilan masuk dari teman-teman se gank yang sudah di reject tapi tetap saja masuk. Jadilah mereka berdua kegep kalau sedang pacaran via Skype.

Tak lama kemudian, Blaire melihat ada satu kejanggalan di group video Skype mereka. Ada satu profile tanpa foto ikut bergabung dalam obrolan video mereka. Awalnya mereka berfikir akun anonymous itu adalah sebuah “glitch” atau malfunction dari Skype ataupun hacker yang berhasil masuk di obrolan Skype mereka. Tapi ternyata akun tersebut bisa menuliskan pesan yang sangat mengejutkan, saudara-saudara. Setelah diteliti, akun tersebut adalah milik salah satu teman mereka yang sudah mati bernama Laura Barns. Sontak semuanya kaget dong masa’ iya orang yang udah mati masih bisa Skype-an. Tragisnya lagi kematian Laura Barns berhubungan dengan ke enam pemuda tersebut. Laura Barns adalah korban cyberbullying yang melakukan aksi bunuh diri dengan menembakkan pistol pada kepalanya.

Kemudian teror Laura Barns menghantui obrolan video call tersebut. Satu persatu mendapatkan fakta yang mengejutkan dan mencengangkan. A good person is not good as thought.

Dalam sebuah pertemanan, pasti ada rahasia maupun kebohongan yang disimpan masing-masing individu. Meskipun telah ditutup rapat-rapat, semuanya akan terbongkar ketika berhadapan dengan ancaman kematian. Inilah yang terjadi pada pertemanan ke enam tokoh utama film yang tidak lolos sensor di Indonesia ini.

Jadi apa hubungannya kematian Laura Barns dengan ke enam anak muda Skype ini?

Bully macam apa yang telah diterima Laura Barns dari teman-temannya?

Bagaimana nasib Blaire, Mitch, Adam, Jess, Ken, dan Val ini?

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

Satu jam dua puluh menit tidak akan terasa dua jam ketika nonton film ini. Alur cerita yang simple, tidak bertele-tele, dan akting yang natural dari ke enam tokoh utama muncul secara personal. Kenapa bisa personal? Karena mereka muncul dalam bingkaian kamera laptop dengan medium Skype. Film yang ceritanya ditulis oleh Nelson Greaves ini mengajak penonton seolah-olah terlibat dalam obrolan video call Skype yang bikin penasaran sampai akhir film. Singkatnya kita sedang online Skype bareng-bareng dan melihat thriller horror di depan mata sendiri.

Meskipun film ini pake jasa Food Fetish (according to Credit Tittle) sebagai vendor catering selama proses produksi, aura horor tidak terlalu menyeramkan (terus hubungannya apa?)

Film ini mengajarkan kita bahwasannya cyberbullying is a crime. Jangan jadi orang yang menyepelekan lelucon pada seseorang di manapun: offline or online. Kita nggak tau lelucon itu akan sangat menyakitkan bagi seseorang tersebut atau tidak. Seperti Laura Barns yang mengakhiri hidupnya karena bully di Internet.

SAY NO TO BULLYING!