Malang (05/05) – Pagi di Sabtu yang masih dingin tidak mengecilkan semangat teman-teman Pertamina Foundation Scholars Malang (PFs Malang). Bertempat di parkiran Fakultas THP, Universitas Brawijaya, sebuah truck terbuka siap mengangkut keberangkatan kami ke lokasi konservasi. Ari Agustina selaku ketua pelaksana mulai kroscek peserta dan perlengkapan. “Sebelum berangkat, kita berdoa lebih dulu agar selamat sampai tujuan dan acara kegiatan ini berjalan dengan lancar, amien.”
Pukul 07.00 WIB, kami berangkat dengan semangat pagi yang masih segar. Total peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini berjumlah 21 PFs dan 4 volunteer. Waktu tempuh dari UB ke lokasi konservasi kira-kira 3 jam.
Sekitar pukul 10-an, kami tiba di lokasi, Pantai Bajul Mati. Pantai ini terletak di desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kab. Malang. Penat dan lelah selama 3 jam di atas truck terbuka terbayar sudah ketika melihat hamparan pasir putih dan deburan ombak menyambut kami. Sebuah spanduk melintang: “Selamat Datang di Pantai Bajul Mati”. Pantai ini sangat bersih. Di sini tidak ada yang boleh berjualan di sekitar pantai kecuali penduduk yang menjaja dagangan di depan rumahnya. Warga di sini sangat ramah menyambut kedatangan kami.
Kami hanya terkagum-kagum melihat pemandangan di depan. Tanpa mampu berkata-kata, kami langsung menuju bibir pantai. Hanya mengambil foto-foto karena dilarang keras berenang. Ombaknya sangat besar karena masih tergolong aliran Pantai Selatan.
Setengah jam puas jeprat-jepret, kami dikumpulkan lagi di sebuah latar tidak jauh dari pantai. Yugo, seksi acara telah menyiapkan sejumlah permainan untuk kami. “Ini game agar kita semua di sini saling kenal. Biar pas kegiatan nanti, nggak ada yang canggung atau apa. Sudah siap bermain?” Semuanya serentak berkata “siaaaapppppppp….”
Sekitar 3 permainan sudah terlewati, tibalah saatnya untuk bertemu dengan tetuah-tetuah di dusun Bajul Mati. Dua orang yang berdiri di depan kami sedang memberikan sambutan, Bapak Izar dan Bapak Mahbub. Kakak-adik ini adalah dua sosok yang sangat disegani di Dusun Bajul Mati. Pak Izar, pria asal Mojokerto ini bisa dikatakan sebagai “pembabat alas” dan mengabdi di dusun ini sejak tahun 1984. Adiknya, Pak Mahbub mengikuti jejak kakaknya di tahun 1994. Keduanya bercerita kondisi dan situasi Bajul Mati saat mereka pertama datang. “Hutan di sini dulu sangat lebat, Mas. Di depan situ (menunjuk ke arah bibir pantai) banyak tumbuh tanaman pandan. Hijau dan birunya laut menyatu dengan sangat mengagumkan. Tapi saat ini sudah tidak ada, Mas. Ya jadinya seperti itu, panas dan sangat terik kalo siang-siang gini,” ujar Pak Mahbub. (Dari Kiri ke Kanan: Pak Mahbub, Pak Izar, dan Yugo)
“Memang Mas, dulu itu warga mengalami himpitan ekonomi, jadi mereka ngambil hasil hutan seenaknya saja tanpa ada pemulihan kembali. Maka dari itu, saya dan Pak Mahbub sangat-sangat menanamkan nilai-nilai tentang alam kepada anak-anak sedini mungkin,” timpal Pak Izar. “Ya, seperti yang dilihat Mas-Mas dan Mbak-Mbak tadi, anak-anak TK dan PAUD kami ajak di sini untuk belajar penanaman mangrove. Kami juga sangat berterima kasih dan besyukur sekali atas kedatangan Mas-Mas dan Mbak-Mbak. Bagi kami kalian adalah generasi muda yang sadar akan pentingnya menjaga keselarasan alam. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih dan selamat datang di Dusun Bajul Mati.” imbuhnya dan diikuti tepuk tangan kami.
Instruksi kemudian dipegang oleh Yugo. Di luar rencana, Yugo menyatakan bahwa penanaman mangrove yang harusnya dilakukan pukul 9 pagi, diundur setelah jam makan siang. Kami dan beberapa warga di sana bersama-sama menyantap hidangan makan siang dengan sangat lahap. Tidak ada pembeda dalam kelas sosial dan pendidikan, semuanya menjadi sama ketika dihadapkan dengan rejeki yang datang dari Tuhan. Suasana akrab nan santai semakin mendekatkan kami satu sama lain.
Setelah selesai menyantap makan siang, selama satu jam teman-teman peserta diberi waktu istirahat. Ada yang melaksanakan kewajiban sholat Dhuhur ada juga yang menyempatkan foto-foto di atas tebing. Kami sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik, karena setelah penanaman mangrove nanti, tidak ada lagi ke pantai dan langsung pulang. Merasa sedih awalnya karena memang diluar rencana awal. Tapi tak apalah, yang pasti main project kami untuk datang ke Pantai Bajul Mati ini adalah menanam mangrove.
Pukul 13.00, kami semua diberangkatan ke lokasi penanaman yang tidak jauh dari pantai Bajul Mati. Masing-masing dari kami sudah membawa bibit untuk ditanam. Begitu kagumnya kami sama anak-anak kecil di sana yang sangat antusias melakukan penanaman. Ternyata, hal ini bagi mereka sudah biasa dilakukan dan mereka menikmatinya. Benar kata Pak Izar, anak-anak sedini mungkin harus diajarkan tentang nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan agar bisa menikmati alam sampai cucu cicit nanti
15 menit kemudian, kami sudah tiba di lokasi penanaman. Sebelum penanaman dilakukan, ketua acara kali ini, Agni memberikan briefing tentang teknik menanam mangrove. Jenis mangrove yang akan kami tanam adalah rizhopora. Setelah briefing selesai, kami memulai menanam mangrove. Ada yang kebagian melubangi lumpur, ada yang menanam, serta ada yang memasang ajir (penyangga dari kayu untuk melindungi mangrove agar tidak terbawa arus).
Selama 2 jam kami bergumul dengan lumpur dan terik matahari. Namun, mengingat pesan Pak Izar sebelum berangkat, “Kita harus ikhlas pas nanem nanti. Insya Allah ini menjadi shodaqoh kita untuk alam”. Akhirnya 1000-an mangrove telah selesai kami tanam. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Waktunya pulang, gumam kami semua. Tapi tiba-tiba Pak Mahbub menawarkan: “Ayo sekarang kita langsung ke pantai dulu!!” Semuanya bersorak “yeaahhhhh…” Bergegaslah kami ke pantai yang dimaksud. Agak jauh juga dari lokasi penanaman mangrove. Tapi lagi-lagi semua lelah dan letih terbayar juga oleh hamparan pasir putih dan jernihnya laut bertabur terumbu karang. Sore itu air laut sudah surut, jadi kami bisa melihat langsung berbagai ekosistem lebih jelas. Bulu babi, bintang laut, gerombolan ikan warna-warni, kepiting, kerang, dan deburan ombak yang cukup dahsyat. Tampak sebagian warga yang mencari ikan dan kerang dari kejauhan. Kami benar-benar puas dan bersyukur. Alam begitu baik kepada manusia, saatnya sebagai manusia harus membalas budi pada alam, pada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejaman lebih kami menyusuri pantai dan waktunya berpisah. Pak Izar memberikan sambutan penutupan dan diikuti oleh penyerahan bingkisan berupa buku-buku yang bisa dimanfaatkan oleh adik-adik kami di sana. Satu per satu saling berpamitan. Terik matahari berangsur-angsur sembunyi di ufuk Barat. Kami semua kembali ke Malang. Terima kasih Pak Izar, Pak Mahbub, Warga Bajul Mati, dan semuanya yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. 
NB: Bagi siapa yang tertarik dengan Bajul Mati, bisa mampir ke blognya loh. Selain itu kita juga bisa ikut berpartisipasi dalam konservasi dengan menyumbangkan dana. Bisa klik tautan ini Harapan Bajul Mati













