Malang (05/05) – Pagi di Sabtu yang masih dingin tidak mengecilkan semangat teman-teman Pertamina Foundation Scholars Malang (PFs Malang). Bertempat di parkiran Fakultas THP, Universitas Brawijaya, sebuah truck terbuka siap mengangkut keberangkatan kami ke lokasi konservasi. Ari Agustina selaku ketua pelaksana mulai kroscek peserta dan perlengkapan. “Sebelum berangkat, kita berdoa lebih dulu agar selamat sampai tujuan dan acara kegiatan ini berjalan dengan lancar, amien.”

Pukul 07.00 WIB, kami berangkat dengan semangat pagi yang masih segar. Total peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini berjumlah 21 PFs dan 4 volunteer. Waktu tempuh dari UB ke lokasi konservasi kira-kira 3 jam.

Sekitar pukul 10-an, kami tiba di lokasi, Pantai Bajul Mati. Pantai ini terletak di desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kab. Malang. Penat dan lelah selama 3 jam di atas truck terbuka terbayar sudah ketika melihat hamparan pasir putih dan deburan ombak menyambut kami. Sebuah spanduk melintang: “Selamat Datang di Pantai Bajul Mati”. Pantai ini sangat bersih. Di sini tidak ada yang boleh berjualan di sekitar pantai kecuali penduduk yang menjaja dagangan di depan rumahnya. Warga di sini sangat ramah menyambut kedatangan kami.

Kami hanya terkagum-kagum melihat pemandangan di depan. Tanpa mampu berkata-kata, kami langsung menuju bibir pantai. Hanya mengambil foto-foto karena dilarang keras berenang. Ombaknya sangat besar karena masih tergolong aliran Pantai Selatan.

Setengah jam puas jeprat-jepret, kami dikumpulkan lagi di sebuah latar tidak jauh dari pantai. Yugo, seksi acara telah menyiapkan sejumlah permainan untuk kami. “Ini game agar kita semua di sini saling kenal. Biar pas kegiatan nanti, nggak ada yang canggung atau apa. Sudah siap bermain?” Semuanya serentak berkata “siaaaapppppppp….”

Sekitar 3 permainan sudah terlewati, tibalah saatnya untuk bertemu dengan tetuah-tetuah di dusun Bajul Mati. Dua orang yang berdiri di depan kami sedang memberikan sambutan, Bapak Izar dan Bapak Mahbub. Kakak-adik ini adalah dua sosok yang sangat disegani di Dusun Bajul Mati. Pak Izar, pria asal Mojokerto ini bisa dikatakan sebagai “pembabat alas” dan mengabdi di dusun ini sejak tahun 1984. Adiknya, Pak Mahbub mengikuti jejak kakaknya di tahun 1994. Keduanya bercerita kondisi dan situasi Bajul Mati saat mereka pertama datang. “Hutan di sini dulu sangat lebat, Mas. Di depan situ (menunjuk ke arah bibir pantai) banyak tumbuh tanaman pandan. Hijau dan birunya laut menyatu dengan sangat mengagumkan. Tapi saat ini sudah tidak ada, Mas. Ya jadinya seperti itu, panas dan sangat terik kalo siang-siang gini,” ujar Pak Mahbub. (Dari Kiri ke Kanan: Pak Mahbub, Pak Izar, dan Yugo)

“Memang Mas, dulu itu warga mengalami himpitan ekonomi, jadi mereka ngambil hasil hutan seenaknya saja tanpa ada pemulihan kembali. Maka dari itu, saya dan Pak Mahbub sangat-sangat menanamkan nilai-nilai tentang alam kepada anak-anak sedini mungkin,” timpal Pak Izar. “Ya, seperti yang dilihat Mas-Mas dan Mbak-Mbak tadi, anak-anak TK dan PAUD kami ajak di sini untuk belajar penanaman mangrove. Kami juga sangat berterima kasih dan besyukur sekali atas kedatangan Mas-Mas dan Mbak-Mbak. Bagi kami kalian adalah generasi muda yang sadar akan pentingnya menjaga keselarasan alam. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih dan selamat datang di Dusun Bajul Mati.” imbuhnya dan diikuti tepuk tangan kami.

Instruksi kemudian dipegang oleh Yugo. Di luar rencana, Yugo menyatakan bahwa penanaman mangrove yang harusnya dilakukan pukul 9 pagi, diundur setelah jam makan siang. Kami dan beberapa warga di sana bersama-sama menyantap hidangan makan siang dengan sangat lahap. Tidak ada pembeda dalam kelas sosial dan pendidikan, semuanya menjadi sama ketika dihadapkan dengan rejeki yang datang dari Tuhan. Suasana akrab nan santai semakin mendekatkan kami satu sama lain.

Setelah selesai menyantap makan siang, selama satu jam teman-teman peserta diberi waktu istirahat. Ada yang melaksanakan kewajiban sholat Dhuhur ada juga yang menyempatkan foto-foto di atas tebing. Kami sungguh-sungguh memanfaatkan waktu dengan baik, karena setelah penanaman mangrove nanti, tidak ada lagi ke pantai dan langsung pulang. Merasa sedih awalnya karena memang diluar rencana awal. Tapi tak apalah, yang pasti main project kami untuk datang ke Pantai Bajul Mati ini adalah menanam mangrove.

Pukul 13.00, kami semua diberangkatan ke lokasi penanaman yang tidak jauh dari pantai Bajul Mati. Masing-masing dari kami sudah membawa bibit untuk ditanam. Begitu kagumnya kami sama anak-anak kecil di sana yang sangat antusias melakukan penanaman. Ternyata, hal ini bagi mereka sudah biasa dilakukan dan mereka menikmatinya. Benar kata Pak Izar, anak-anak sedini mungkin harus diajarkan tentang nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan agar bisa menikmati alam sampai cucu cicit nanti

15 menit kemudian, kami sudah tiba di lokasi penanaman. Sebelum penanaman dilakukan, ketua acara kali ini, Agni memberikan briefing tentang teknik menanam mangrove. Jenis mangrove yang akan kami tanam adalah rizhopora. Setelah briefing selesai, kami memulai menanam mangrove. Ada yang kebagian melubangi lumpur, ada yang menanam, serta ada yang memasang ajir (penyangga dari kayu untuk melindungi mangrove agar tidak terbawa arus).

Selama 2 jam kami bergumul dengan lumpur dan terik matahari. Namun, mengingat pesan Pak Izar sebelum berangkat, “Kita harus ikhlas pas nanem nanti. Insya Allah ini menjadi shodaqoh kita untuk alam”. Akhirnya 1000-an mangrove telah selesai kami tanam. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Waktunya pulang, gumam kami semua. Tapi tiba-tiba Pak Mahbub menawarkan: “Ayo sekarang kita langsung ke pantai dulu!!” Semuanya bersorak “yeaahhhhh…” Bergegaslah kami ke pantai yang dimaksud. Agak jauh juga dari lokasi penanaman mangrove. Tapi lagi-lagi semua lelah dan letih terbayar juga oleh hamparan pasir putih dan jernihnya laut bertabur terumbu karang. Sore itu air laut sudah surut, jadi kami bisa melihat langsung berbagai ekosistem lebih jelas. Bulu babi, bintang laut, gerombolan ikan warna-warni, kepiting, kerang, dan deburan ombak yang cukup dahsyat. Tampak sebagian warga yang mencari ikan dan kerang dari kejauhan. Kami benar-benar puas dan bersyukur. Alam begitu baik kepada manusia, saatnya sebagai manusia harus membalas budi pada alam, pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sejaman lebih kami menyusuri pantai dan waktunya berpisah. Pak Izar memberikan sambutan penutupan dan diikuti oleh penyerahan bingkisan berupa buku-buku yang bisa dimanfaatkan oleh adik-adik kami di sana. Satu per satu saling berpamitan. Terik matahari berangsur-angsur sembunyi di ufuk Barat. Kami semua kembali ke Malang. Terima kasih Pak Izar, Pak Mahbub, Warga Bajul Mati, dan semuanya yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. 

NB: Bagi siapa yang tertarik dengan Bajul Mati, bisa mampir ke blognya loh. Selain itu kita juga bisa ikut berpartisipasi dalam konservasi dengan menyumbangkan dana. Bisa klik tautan ini Harapan Bajul Mati

Sajadah Jum’atan

Posted: April 13, 2012 in Uncategorized

Di Twitter kalo tiap hari Jumat selalu ngeributin statement : Cowok kalo jum’atan itu gantengnya tambah sekian persen. SESAT pastinya -,-”. Well, nggak ada hubungan jum’atan dengan tingkat kegantengan. Kalo udah ganteng ya ganteng saja (bersyukurlah). Kalo sudah jelek ya jelek saja (bershowerlah). Oke, di sini saya akan sharing keajaiban di Friday 13th 2012 ini yang barusan terjadi. Pas ketika sholat Jum’at.

Malang pukul 11.40 tadi diguyur hujan yang lumayan deres tapi singkat. Oke, jadi setan-setan mulai ngebisikin: Sudddaahhh…tidur dulu sanah *bacanya kudu pake aksen Mie Sedap*. Dan setan-setan kembali berseru: “Sekali absen jumatan nggak apa-apa juga kaleeeee *kalo ini bacanya kudu gaul abis ala aurel versi @miund. Kan jatah lu tiga kali sob?” Yaaahhhh….saya semacam tergoda dan terbujuk rayu. Mulai memasukkan kepala ke dalam selimut. Tiba-tiba malikat datang: YAKIN JATAH KAMU 3 KALI UNTUK SHOLAT JUM’AT? KALO BESOK KAMU DIJEMPUT SAMA TEMEN SAYA (MALAIKAT IZRAIL), MASIH NGENTENGIN SHOLAT? *DHEG DHUAARRR*. Malaikat pun menang. Buru-buru turun ke kamar mandi dan jebyor-jebyor. Ambil wudhu. Balik ke kamar. Dan masalah timbul lagi. 

INI KENAPA SAJADAH BAU APEK? 

Biasanya sih kalo Jum’at-an nggak pernah bawa sajadah. Tapi hari ini karena hujan, dan kemungkinan lantai masjid agak-agak becek gimana gitu, saya putuskan bawa sajadah. Tapi ya tapi bau apek. Sebenernya bisa sih saya semprot pake parfum, tapi sayang di parfum nya sih :’)). Oke saya biarkan saja. Selama perjalanan, saya selalu negasin: Kali ini nggak usah berbagi sajadah dengan orang lain. Biar saya sendiri saja yang nyium apek.

Sampek masjid, denger ceramah (yang isinya pas dengan kata-kata malaikat tadi) *fiuuuhhh* dan sekali lagi otak ini ngingetin kalo nggak usah berbagi sajadah. Dipake sendiri saja. Tapi pas sudah mulai berdiri, secara spontan kedua tangan ini menggelar sajadah secara horizontal. Ini berarti saya berbagi sajadah dengan orang lain. Mampus deh. Kesian orangnya yang bakal nyium apeknya sajadah usang ini. Oke kepalang tanggung. Sudah digelar dan imam sudah bertakbiratul irkham. 

SUBHANALLAH, pas sujud pertama ternyata sajadahnya NGGAK BAU APEK. Nggak wangi juga sih. Cuma aroma kain khas sajadah. Sekali lagi NGGAK BAU APEK. Saya (dalam hati) hanya bisa berkata double you double you ow aka WOW. 

Semua kejadian di atas hanya kehendak Allah SWT. So, Jum’atan itu nggak bikin ganteng sob. Cuma ya ini salah satu keajaiban sholat Jum’at :’))

“Aisshh…postingan dan tweet temen-temen basi semua. Spamming banget. Bosen nih lama-lama mainan social medianya.”

Sudah pasti sering tuh ngalamin mood seperti kutipan di atas. Nggak cowok nggak cewek pasti pernah. Merasa bosen dengan online world yang itu-itu saja? Coba deh mampir ke Kurang Asem Website. Semua perasaan basi dan asem lo akan jadi lebih warna-warni dan hidup. Nggak pake lama, nggak pake ribet, dan nggak pake telor. Pertama kali buka Kurang Asem langsung disambut dengan warna-warna nge-hits jaman sekarang. Gimana nggak melek tuh lihat warna merah, kuning, hijau, dan orange. Pas banget untuk naikin mood kamu yang bete dan lagi asem. Head banner-nya nonjok banget kan? Garasi Kurang Asem!

Menu Garasi Kurang Asem: Asemtainment langsung menyambut kita dengan Interactive TV nampilin sosok Asembro yang bisa kita suruh-suruh untuk ngelakuin apa saja. Just type and press the button! Lucu kan, jadi si Asembro akan nurutin kemauan kita loh. Dan ini langsung terintegrasi dengan Facebook Kurang Asem. Simple and Fun :)

Menu Garasi Kurang Asem kedua: Kurang Asem yang isinya tentang produk-produk Kurang Asem dari setiap varian yang ada. Penjelasan mengenai produknya nggak kaku, bro. Nyantai dan nggak terkesan jualan. Plus dilengkapi dengan Store Location dong. Sayangnya kurang dilengkapi dengan map sih. Coba deh dikasih map tapi bukan map kayak Google, dibikin se-khas mungkin ala Kurang Asem. Pasti lebih menarik.

Oke, itu baru menu ke-dua. Nih lanjut menu Garasi Kurang Asem ke-tiga: What’s Hot dengan icon yang sangat catchy yang akan mengingatkan kita pada salah satu varian Kurang Asem HOT rasa Rujak. Di sini terdiri dari artikel-artikel Kurang Asem baik itu berupa event-event yang telah diselenggarakan maupun artikel promo dan sebagainya. Tulisan ringan yang informatif.

Terakhir, ada menu LOL (Lot of Laugh) yang nggak kalah asik dan seru. Menu yang satu ini nawarin konten-konten konyol berupa Foto Asem, Video Asem, dan Kamus Asem (Gombal Asem, Peribahas Asem, Tebakan Asem, dan Pantun Asem). Tunjukkan ajang kreatifmu disini. Siapa tau dapet hadiah :) . Tapi, cukup satu yang kurang, nggak ada informasi mengenai sumbangsih pengunjung website yang mungkin ingin mengirimkan konten Kamus Asem. Saya rasa perlu dikasih info biar lebih jelas saja. Tampilan sih sudah oke kok. Kreatif.

Seperti yang kita ketahui, jaman social media nggak lengkap kalo di website tidak ada tautan ke socmed. Nggak usah bingung sob, Kurang Asem sudah menyediakan “papan gantung” untuk tiga socmed yang digunakan. Pertama, Facebook Kurang Asem, Twitter Kurang Asem, dan YouTube Kurang Asem. Nah loh, siap-siap eksis tanpa bau asem tuh :D

Dan semua ke-aseman itu bisa kalian nikmati dengan cara Register tanpa repot tanpa ribet, dan tanpa telor. Nggak perlu musingin koneksi internet yang kurang stabil. Isi konten website sangat “enteng” dan mudah. Say no to bufferring!!!

Sekedar saran saja sih, mungkin kursornya masih standart aja ya. Masih dalam bentuk “tanda panah” yang sering dipakai oleh kebanyakan website. Coba hal baru. Mungkin bisa menggunakan kursor bentuk Permen Kurang Asem, atau malah bentuk Kribo-nya Asembro. Pasti lebih energik dan menarik.

So, Badan Lo Boleh Asem. Asal Hidup dan Pikiran Lo Tetep Adem. Kurang Asem? Asemin aja deh di sini –> Asemtainment

Strategi komunikasi pemasaran selalu mengalami perubahan dari jaman-ke jaman. Mulai dari era media konvensional sampai era digital dengan hadirnya beragam bentuk social media. Bentuk pesan komunikasi yang ingin disampaikan juga bervariatif dengan konsep ide yang tidak terduga.

Istilah buzzer mungkin sudah sering kita dengar di media sosial seperti Twitter. Sebuah istilah bagi seseorang yang menjadi influencer bagi setiap pengikutnya dan didapuk oleh sebuah brand untuk sounding tentang brand campaign yang diusungnya. Tujuan dari sounding itu adalah menciptakan buzz atau percakapan yang mengarah pada tujuan brand campaign namun dikemas lebih halus.

Orang-orang yang sering didapuk menjadi buzzer biasanya selebritis dengan tingkat kepopuleran yang cukup tinggi di mata masyarakat. Namun, saat ini muncul fenomena baru di dunia per-buzzer­-an dimana beberapa brand mulai mengajak influencer dari kalangan orang biasa namun luar biasa. Mereka adalah Selebritis Twitter (selebtwit). Disebut orang biasa karena mereka memang bukan tokoh atau selebritis, dan menjadi orang luar biasa ketika mereka bermain dengan kata-kata dan dirangkai menjadi sebuah kalimat dalam batas 140 karakter. Sebuah opini, idealisme cara berpikir, atau hanya sebatas ­percakapan ­basa-basi yang mereka share di Twitter ternyata mempengaruhi follower-nya. Mereka memperoleh banyak respon dan menjadikan mereka kebanjiran follower baru. Dan follower yang banyak inilah menjadi salah satu tolak ukur bagi sebuah brand dalam memilih seorang buzzer.

Menjadi buzzer tidaklah mudah. Seorang buzzer tidak semata-mata menyelipkan informasi mengenai brand campaign di setiap twit dengan sembarangan. Perlu strategi khusus agar jati diri buzzer tersebut tidak berpolemik dengan karakter brand yang di-buzz­­-kan. Pemilihan struktur kalimat dengan batas 140 karakter harus dipikirkan secara cermat agar follower tidak merasa membaca iklan. Kreativitas seorang buzzer tidak boleh mati agar follower tetap loyal dan brand yang mendapuknya tetap royal.

Masih ingat dengan “Peti Mati”? Campaign yang dilakukan oleh seorang marketer Indonesia untuk meluncurkan buku tentang periklanan. Dia mengirimkan sebuah peti mati dengan berbagai ukuran ke beberapa media massa dan agensi periklanan. Sontak para penerima terkejut dan bertanya-tanya “Siapa yang meninggal?”. Kenapa peti mati? Ternyata judul buku yang akan diluncurkan adalah “Rest in Peace Advertising”. Aksi campaign ini pun mendapat kecaman dari berbagai pihak. Menjadi trending topic di Twitter yang mempertanyakan etika dalam sebuah campaign. Berbagai sudut pandang juga terlontar. Ada yang menganggap campaign itu sangat out of the box dan kreatif, serta ada yang mencibir karena dianggap tidak punya etika. Pasalnya, salah satu penerima peti mati yang kebetulan anaknya sedang dirawat di rumah sakit, tiba-tiba di kantor mendapatkan kiriman peti mati ukuran anak kecil. Coba bayangkan posisi seorang ayah tersebut. Di mana etika pemasaran? Di mana etika sebuah campaign?

Selanjutnya pada tahun 2011, tepatnya tanggal 28 April 20100 kemarin, sebuah campaign yang di-buzz-kan melalui social media dilakukan oleh sebuah brand telepon seluler, Nokia. Ceritanya brand asal Finlandia ini akan meluncurkan fitur aplikasi “WhatsApp” dengan menggandeng artis cantik Carissa Putri sebagai brand ambassador, berhasil menciptakan buzz yang kontroversial. Carissa Putri dikabarkan hilang beberapa hari. Media komunikasi iklan yang digunakan hampir di berbagai media dan menggunakan search engine marketing, sehingga ketika ­keywordCarissa Putri diketik di Google, maka berita utama yang akan muncul adalah tentang hilangnya dia. Hal ini benar-benar mengalihakan perhatian pembaca dari modus promosi belaka. Para fans sangat khawatir dengan idolanya tersebut. Mereka mencari-cari informasi akan kebenaran berita tersebut. Dan beberapa hari kemudian, muncul tweet dari salah seorang artis juga yang menulis tweet kurang lebih seperti ini: “Mau tau kemana Carissa Putri hilang selama ini? Cek aja di http://www.nokia.co.id/breakfree”. Link tersebut berupa video iklan Nokia yang menampilan sosok Carissa Putri joget-jogetdi keramaian orang dan berkata: “Hi, saya Carissa Putri. Saya bukannya menghilang. Begini ceritanya” sambilcengengesanFans pun merasa ditipu dan dibodohi. Keresahan orang banyak terbayar dengan fakta bodoh.

Terbaru adalah aksi buzz yang dilakukan oleh seorang comic Stand up Indonesia, Ernest Prakasa pada 13 Januari yang lalu. Awal tweet­-nya yang di-share kepada ribuan follower-nya mengesankan bahwa dia sedang diculik dan meminta bantuan sama istrinya untuk menyelamatkannya. Spontan reaksi teman-temannya menanggapi serius dan merasa khawatir. Namun, beberapa saat kemudian, Ernest memberikan link video yang menggambarkan keadaan dia dan ternyata benar itu sebatas promosi produk Mini Cooper. Banyak yang menyayangkan aski nge-buzz yang dilakukan Ernest tersebut.

Permasalahan apa yang bisa kita tangkap dari strategi promosi seperti ini? Jawabannya cuma satu: ETIKA. Tidak dipungkiri media komunikasi telah berevolusi dengan cepat dan tumbuh lebih maju. Namun, setiap marketer seharusnya tidak melupakan suatu tanggung jawab moral yang tertanam hakiki di setiap manusia, yaitu etika. Etika bukan peraturan tertulis yang mengekang kreativitas para marketer dalam menciptakan campaign yang begitu brilian. Tetapi, masalah etika ini lebih kepada tanggung jawab moral secara personal. Masih banyak aksi campaign yang bisa dilakukan tanpa menyangkut unsur-unsur kriminalitas yang akan membahayakan sekali semisal benar-benar ada informasi di Twittertentang orang diculik, takutnya akan mendapat tanggapan yang tidak serius atau dianggap hanya gurauan saja.

Selanjutnya, brand perlu memerhatikan apakah strategi campaign yang dilakukan sudah benar atau tidak menurut norma yang berlaku. Kemudian, setiap individu yang didapuk menjadi seorang buzzer juga harus memperhatikan bagaiamana pesan komunikasi yang akan mereka sampaikan mengenai brand tersebut. Semoga tidak ada lagi aksi campaign seperti itu dan setiap marketer perlu menanamkan lebih kuat etika dalam komunikasi pemasaran.

 

Artikel ini dimuat di The Marketeers.com pada tanggal 1 Februari 2012

“Dear @brand, kenapa layanan jaringan kamu di tempatku begitu ngehe’ ? Sepertinya aku akan berpindah ke provider lain deh. Mahal. Boros. Bukan mahasiswa minded” tulis seseorang pada akun Twitter salah satu provider di Indonesia.

Kejadian seperti di atas sudah sering terjadi dan lumrah di kalangan netizen. Pelanggan dengan sangat mudah memberikan komplain ketidakpuasan terhadap sebuah brand. Tinggal search dan mention. Kalau di Facebooklangsung komplain di wall. Bagaimana dengan blog? Lebih bebas tanpa batasan karakter. Informasi tentang keluhan pun lebih tereskpresikan dengan liar. Dan kekuatan terpenting social media yang bisa membunuh sebuahbrand adalah kecepatan penyebaran lebih luas dibandingkan dengan menulis keluhan di surat kabar dan media konvensional lainnnya. Para marketers pun harus memiliki antisipasi dan kewaspadaan lebih dalam menghadapi isu-isu brand yang ditangani.

Me-review sedikit mengenai salah satu tulisan Hermawan Kertajaya yang berjudul “Customers are not always right, but they are still important” dalam bukunya yang berjudul “New Wave Marketing: The World is Still Round, The Market is Already Flat”, memberikan sebuah contoh ilustrasi penanganan keluhan pelanggan yang kurang tepat. Pada tahun 2006, Vincent Ferrari, seorang pelanggan provider Interner AOL, Amerika, menelpon customer service AOL untuk melakukan pemberhentian jasa langganannya. CS yang kebetulan mengangkat telepon itu bernama John. Ferrari meminta AOL untuk menghentikan jasa langganannya karena dia mengaku sejak setahun yang lalu sudah tidak memakai provider AOL. Namun John tidak langsung mengiyakan permintaan Ferrari, karena menurut catatandatabase AOL dia masih tercatat menggunakan AOL. Aksi bantah membantah terjadi antara keduanya. Sampai-sampai John meminta Ayah Ferrari yang tercatat sebagai nama pelanggan AOL untuk berbicara langsung. Ferrari pun geram dan berulang kali berteriak “Cancel the Account”.

Semacam seru dan sial, percakapan tersebut direkam oleh Ferrari dan dimuat di blog-nya. Apa yang terjadi? Percakapan tersebar secara cepat dan luas sampai ditayangkan oleh stasiun TV CNBC. AOL langsung memecat John dan memberikan pernyataan maaf kepada Ferrari. Sebenarnya John hanya mengikuti informasi database dan berusaha membenarkan diri. Namun, Ferrari telah mencemarkan brand AOL yang berujung pada pemecatan seorang karyawan.

Social media yang termasuk bagian dari New Wave Marketing telah membuktikan bahwa kesalahpahaman antaracustomer dengan brand melalui komplain dan sebagainya, perlu ditindaklanjuti, dikendalikan, dan diselesaikan agar isu tidak menyebar luas yang nantinya berdampak buruk bagi brand itu sendiri. Bagaimana caranya? be humble. Respon yang ramah dalam menanggapi keluhan customer sudah cukup untuk meminimalisir kejadian seperti contoh di atas. Dan, kalau menurut Bapak Hermawan Kertajaya “Jika kita (brand) memang tidak salah, maka tidak perlu meminta maaf dan memberikan recovery.”

Kesalahan pemahaman yang berakar pada slogan “Rule #1: The customer is always right. Rule #2: If the customer is wrong, please re-read rule number one. Sejatinya pernyataan tersebut ingin menyampaikan bahwa “Customer is important”. Sayangnya banyak yang menerjemahkan secara literal dan jadi keliru. Bapak Hermawan Kertajaya menambahkan bahwa ungkapan itu merupakan filosofi bagaimana cara untuk melayani dan menanggapi keluhan pelanggan dengan menempatkan mereka sebagai prioritas utama, bukan sebagai pelanggan yang selalu benar. Sobe humble and be careful!!!

Artikel ini jadi #ARTICLEOFTHEDAY di The Marketeers.com tanggal 5 Februari 2012.

Awal kenal Twitter, satu hal yang langsung saya lakukan adalah: FOLLOW ARTIS. Yup, artis pertama yang saya follow kalau nggak salah adalah Cut Tari, selanjutnya Indra Bekti, Indy Barends, Indra Herlambang, dan seterusnya. Terus-terusan artis yang saya follow J. Merasa WOW aja gitu bisa tau dan baca “pikiran” dan apa yang mereka kerjakan lewat status 140 karakter. Awalnya bener-bener norak, mereka nge-tweet apa, saya langsung nanggepin, walaupun dari sekian artis yang saya follow, cuma Indra Herlambang yang ngasih balasan, meskipun via Direct Message (DM). Mereka juga sering update lokasi dimana mereka berada via Foursquare, dan sebagai newbie di Twitter dan norak, ada kebanggan tersendiri ketika kita mengetahui informasi mereka lebih cepat daripada infotainment. Yeay!

Tapi apa daya, booming Twitter juga melanda remaja-remaja gaul masa kini. Apa yang akan dan sudah terjadi? Si artis akan banyak menerima mentions berupa: “F0lb3k doNg, k4K4k”. Jujur ya, pertama mainan Twitter, saya belum pernah minta follow back sama siapapun, sampai beberapa minggu kemarin saya minta folbek sama seorang dara cantik asal Surabaya, Kartika Prawitha. Dan ternyata difolbek. Yihaaaa!

Kembali ke topik si artis, timeline mereka sudah bisa dipastikan akan berisi dengan jadwal aktivitasnya mulai syuting dimana dan kapan, serta update lokasi via Foursquare atau via apapun. Sebagai seorang manusia normal yang mengagumi idolanya, update lokasi dari si idola akan sangat berarti besar bagi seorang fan. Hal ini juga sah-sah saja bagi si artis untuk memberitahukan fans-nya dimana mereka berada. Misalnya saja, “I am at Waroeng Sangat Sederhana (via 4sq.com/12345)” terus dilanjut dengan tweet “Wah, di sini belalai gajah krispinya, enak twips. Bisa dicoba dan recommended”. Jika dibahas agak sedikit ilmiah dan teoritis, hal ini termasuk dalam bagian The Honeycomb of Social Media yang dipopulerkan oleh Kietzmann dalam jurnal Business Horizons, 2011: 243. Kerangka “sarang lebah” ini memiliki 7 blok yang dimaksudkan untuk memudahkan kita dalam memahami social media. Salah satu blok yang mewakili fenomena Foursquare adalah Presence. Blok presence mewakili sejauh mana pengguna social media  dapat mengetahui jika pengguna yang lain dapat dijangkau (accessible). Termasuk mengetahui di mana pengguna lain berada, dalam virtual world atau real world, dan apakah mereka “available”. Pada virtual world bisa diketahui melalui status lines seperti “available” atau “hidden”. Mengingat pergerakan konektivitas orang semakin banyak, kehadiran ini menjembatani virtual world dengan real world. Contoh, aktor Ashton Kutcher dan mantan istrinya, Demi Moore adalah selebritis yang aktif di FourSquare. Mereka sering meng-update lokasi dan tempat di mana mereka berada. Hal ini memungkinkan fans dan media-media mengetahui keberadaan mereka. Dari satu tweet update lokasi, satu headline berita pun akan tercipta.

Lalu apa yang akan terjadi jika remaja-remaja gaul dan eksis abis itu melakukan location update via Foursquare atau via lainnya? Twitter People (Tweeple) menyebut mereka sebagai Foursquare Abuser. Bayangin coba, hampir setiap menit selalu update lokasi di tempat yang sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu penting, seperti “I am at Rumahku Sayang (via 4sq.com/5owH4T) atau “I am at Warung Selamat Makan (via 4sq.com/5owH4T) dan segambreng lokasi yang merangsang kita untuk reply “TERUS GUE HARUS BILANG WOW GITU?”. Nah lokasi yang bikin saya bermuram durjana adalah “I am at International Airport with 20 others (via 4sq.com/5owH4T). Jarang banget kita temui check in via Foursquare semacam “I just checked in Terminal Bus dan Angkot (via 4sq.com/5oCo0L) atau “I am at Pasar Lokal Tradisional with Ibu Tercinta (via 4sq.com/5oCo0L). Kalaupun ada, pasti jarang banget dan mungkin hanya saya J

Oke, setiap orang berhak menggunakan social media sebagai personal media yang bebas dan merdeka. Saya menghargai itu. Mereka juga berhak untuk eksis dengan caranya masing-masing. Tapi, apa daya hati dan otak berbanding terbalik. Sisi terdalam hati sangat appreciate, tapi kinerja otak sangat underestimate. Itulah manusia, sisi positif dan negatif selalu berdampingan. Maunya sih nggak ngasih judgment pada mereka-mereka yang abuser di segala hal (RT Abuser, and Foursquare Abuser). Tapi, logika dan realitas berkata lain. Sebuah justifikasi bukan untuk menjatuhkan seseorang, tapi untuk mengingatkan sesorang mana yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Bukannya sesama manusia itu harus saling mengingatkan? Dengan catatan tanpa menggurui.

Eksis di Internet nggak harus childish dan narsis. Eksis di Internet nggak harus memiliki akun di hampir semua social media tapi nggak tau “cara mainnya”. Eksis di Internet bisa dilakukan dengan hal-hal yang meaningful misalnya optimalisasi information sharing minded. Kenapa? Karena platform of social media is sharing content. Konsep information sharing via social media akan lebih bermanfaat daripada nulis status yang isinya mengeluh, komplain, bad mood, nyinyir atau status-status spamming yang nggak terlalu penting untuk di-share. Misalnya saja, update location via Foursquare akan lebih baik jika dilanjutkan dengan tweet yang informatif. Pada saat checked in di tempat makan, coba kasih review tentang tempat itu, bisa main dari segi rasa makanan, pelayanan, dan sebagainya. Ketika melakukan travelling ke sebuah tempat seperti “I am at Singapore (via 4sq.com/5owH4T)”, coba kasih info-info yang berguna tentang apa yang kamu kunjungi, berapa tarif penginapan yang kamu tempati, dan masih banyak lagi hal yang informatif. Akan jadi berbeda ketika status kamu adalah selebritis yang update status “kacangan” aja direspon oleh banyak penggemarnya. Well, those kind of stupid celebrities. Jadi, eksis itu nggak harus narsis dan pamer. Be creative with social media. Luckily, perhaps you’ll earn some money from social media.

Dua temen perempuan di sebelah saya sedang asyik tertawa cekikikan sambil saling pandang dengan sebuah komentar. Kadang lucu kadang sinis. Setelah saya bertanya, satu dari mereka menjawab: Nih ada salah satu teman kita yang sangat lebay bin alay di Twitter, segala percakapannya dengan sang pacar diumbar dengan gamblangnya. Parahnya, dia nggak pake reply tapi retweet. Sumpah ini RT Abuser!!!

Satunya lagi menimpali: Eh, ini ada lagi, katanya si X putus sama si Y dan jadian sama si Z loh. Nggak banget. Kasian si Z tuh mau aja diperalat. Bla bla bla bla….

Ilustrasi aktivitas dua teman perempuan di atas adalah yang kita kenal dengan istilah KEPO. Sebenarnya, KEPO itu apa sih? Apa hubungannya KEPO dengan Insight?

Rasa ingin tahu dimiliki oleh setiap orang. Perasaan ini muncul secara sengaja ataupun tidak. Kompleksitas kehidupan saat ini yang secara teknologi dimediasikan dengan social world menyebabkan online communication pun semankin meningkat. Fakta bahwa banyak remaja melakukan kehidupan sosial mereka diFacebook daripada di sekolah, fakta bahwa kaum ibu-ibu baru mendapatkan banyak informasi bukan dari keluarga atau teman mereka, melainkan dari sebuah forum web, dan bahwa, di banyak tempat kerja, blog dan Twitter adalah sumber yang paling penting dari berita industri dan opini.

Sebentar-sebentar update status mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Setiap menit dan setiap apa yang sedang dikerjakan selalu dicurahkan pada social media. Sifat keterbukaan yang berlebihan ini membuat sebagian orang yang juga bergabung di linimasa mereka ikut risih dan terganggu. Tak ayal mereka menyematkan spammer bagi user yang over updating.

Tapi, sebagian orang malah tertarik untuk mencari tahu dan memperbincangkannya di offline. Yups, mereka KEPO. Selalu ingin tau urusan orang lain. Tak jarang mereka sekedar mampir ke akun yang ingin di-kepo. Banyak topik yang sering menjadi bahan untuk di kepo. Misalnya, tweet galau, tweet nyindir atau nyinyir, sertatweet nomention.

Kalo ditelaah lebih detail, sebenarnya sifat KEPO adalah sifat yang harus dimiliki oleh pemasar dalam memahami konsumen. Mulai dari siapa konsumennya, apa aktivitas sehari-hari konsumennya, media apa yang sering mereka konsumsi, serta ekspektasi apa yang mereka harapkan terhadap produk yang digunakan. Nah, inilah yang dinamakan consumer insight. Menyelami emosi terdalam konsumen melalui sebuah riset konsumen yang kita kenal dengan sebutan etnografi dan pelakunya adalah etnografer.

Menurut Ibu Amalia E. Maulana dalam bukunya yang berjudul “Consumer Insight via Ethnography” (2009)  menyatakan sebagai berikut: “Etnografi mencari insight sampai ke akarnya, mencari tahu why do people dowhat they do, tidak hanya bersumber dari perkataan responden, melainkan diperkaya pula dengan hasil pengamatan, baik itu dalam bentuk aktivitas maupun foto, gambar dan simbol yang berhubungan dengan responden serta produk yang digunakannya”.

Sudah jelas bahwa metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperoleh data-data itu. Namun, teknologi era Web 2.0 saat ini memungkinkan kita bisa mengefektifkan dan mengefisienkan proses penelitian yang disebut dengannetnography. Netnography melacak peristiwa khusus di mana komunitas itu terbentuk melalui computer mediated communications (CMC). Dan social media menyajikan berbagai aktivitas, obrolan, bahkan curhatan seseorang yang berpotensi menjadi insight bagi sebuah brand.

KEPO, selalu ingin mengetahui urusan orang lain tanpa terkecuali mulai dari hal sepele sampai yang paling pribadi pun menjadi sebuah insight terbarukan bagi pemasar di era netizen ini.

 

NB: Artikel ini menjadi Article of The Day di http://www.the-marketeers.com dengan judul yang sudah diganti menjadi KEPO Pun Jadi Insight

http://the-marketeers.com/archives/kepo-pun-jadi-insight.html